9 PRINSIP TULUSING RASA DALAM KAWRUH SEJATI

9 prinsip tulusing rasa

Tulusing Rasa merupakan salah satu dasar penting dalam Kawruh Sejati. Jika Weninging Cipta berkaitan dengan kejernihan cipta, maka Tulusing Rasa berkaitan dengan ketulusan dalam merasakan, menyadari, dan menyikapi kehidupan.

Rasa bukan sekadar perasaan yang muncul karena keadaan. Rasa menjadi bagian penting dalam hubungan manusia dengan dirinya sendiri, dengan sesama, dan dengan kehidupan. Karena itu, rasa perlu dijaga agar tidak dikuasai oleh pamrih, iri, dengki, kebencian, kesombongan, maupun kepentingan pribadi.

Tulusing Rasa bukan berarti selalu merasa senang, selalu lembut, atau tidak pernah mengalami kemarahan dan kesedihan.

Ketulusan rasa justru berarti mampu mengakui apa yang dirasakan dengan jujur, kemudian menempatkannya secara tepat sehingga rasa tidak menguasai cipta dan karsa.

Dalam kerangka Kawruh Uttamopadesa, Tulusing Rasa berjalan bersama Weninging Cipta dan Utamaning Karsa. Cipta yang wening memberikan kejernihan, rasa yang tulus memberikan kedalaman dalam merasakan, sedangkan karsa yang utama mengarahkan kehendak menjadi laku.

Berikut sembilan prinsip Tulusing Rasa.

1. Rasa Jujur marang Dhiri.
Prinsip pertama Tulusing Rasa adalah berani mengenali rasa yang muncul dalam diri sendiri.

Manusia sering kali berusaha menyembunyikan rasa tertentu karena tidak ingin mengakuinya. Rasa marah, kecewa, iri, takut, sedih, atau sakit hati kadang ditutupi dengan berbagai alasan.

Padahal, rasa yang tidak dikenali dapat memengaruhi cara manusia berpikir dan bertindak.

Tulusing Rasa dimulai dari keberanian untuk melihat keadaan rasa sebagaimana adanya. Bukan untuk memanjakan rasa tersebut, tetapi untuk memahami dan menatanya.
Kejujuran terhadap rasa membuat manusia tidak mudah menipu dirinya sendiri.

2. Rasa Tanpa Pamrih.
Ketulusan rasa tidak mudah tumbuh apabila hubungan dengan sesama selalu didasarkan pada pamrih.

Jika seseorang berbuat baik hanya karena mengharapkan balasan, maka kebaikan tersebut masih terikat oleh kepentingan tertentu.

Tulusing Rasa mengajarkan manusia untuk dapat memberikan perhatian, pertolongan, dan kebaikan tanpa menjadikan balasan sebagai ukuran utama.

Tanpa pamrih bukan berarti tidak boleh menerima kebaikan dari orang lain. Artinya, kebaikan tidak diberikan semata-mata sebagai alat untuk mendapatkan keuntungan bagi diri sendiri.

3. Rasa Tanpa Iri lan Dengki.
Iri dan dengki dapat mengeruhkan rasa.

Ketika melihat keberhasilan orang lain, seseorang terkadang merasa dirinya berkurang hanya karena orang lain mendapatkan sesuatu yang lebih baik.

Perasaan seperti itu dapat berkembang menjadi keinginan agar orang lain kehilangan apa yang dimilikinya.

Tulusing Rasa mengajarkan manusia untuk mampu menerima keberhasilan orang lain tanpa harus merasa terancam olehnya. Keberhasilan orang lain tidak mengurangi nilai kehidupan diri sendiri.

Dengan rasa yang tulus, manusia dapat belajar ikut berbahagia atas kebaikan yang dialami sesama tanpa kehilangan arah kehidupannya sendiri.

4. Rasa Welas marang Sesami.
Tulusing Rasa juga diwujudkan melalui welas terhadap sesami.

Welas bukan berarti selalu membenarkan tindakan orang lain. Welas berarti mampu melihat sesama sebagai manusia yang juga memiliki keterbatasan, kesalahan, kebutuhan, dan perjuangan.

Rasa welas membuat manusia tidak mudah merendahkan atau menghakimi.

Dalam kehidupan, sikap ini dapat diwujudkan melalui kesediaan mendengarkan, membantu ketika mampu, menghormati perbedaan, serta tidak menambah penderitaan orang lain dengan ucapan maupun tindakan.

5. Rasa Ora Kagodha Karep Pribadi.
Rasa dapat berubah ketika manusia terlalu kuat mengikuti kepentingan pribadi.

Apa yang menguntungkan bagi diri sendiri mudah dianggap benar, sedangkan sesuatu yang merugikan diri sendiri mudah dianggap buruk. Akibatnya, rasa menjadi tidak lagi tulus karena selalu berpihak kepada kepentingan pribadi.

Tulusing Rasa membutuhkan kemampuan untuk memberi jarak terhadap kepentingan diri.

Manusia belajar merasakan suatu keadaan bukan hanya dari sudut pandang dirinya sendiri, tetapi juga dengan mempertimbangkan keadaan pihak lain.
Dengan demikian, rasa menjadi lebih luas dan tidak terkurung oleh ego pribadi.

6. Rasa Mampu Nampa Kasunyatan.
Ketulusan rasa membutuhkan kemampuan menerima kenyataan.

Tidak semua keadaan berjalan sesuai dengan keinginan. Ada keberhasilan dan kegagalan, pertemuan dan perpisahan, kelahiran dan kematian, keuntungan dan kehilangan.
Menolak kenyataan tidak mengubah kenyataan tersebut. Yang dapat dilakukan manusia adalah memahami keadaan dan menentukan sikap terhadapnya.

Nampa kasunyatan bukan berarti menyerah tanpa usaha. Sebaliknya, menerima kenyataan merupakan dasar untuk mengetahui apa yang benar-benar dapat dilakukan.

Rasa yang tulus tidak terus-menerus memaksa kenyataan agar sesuai dengan keinginannya.

7. Rasa Ora Nggawa Rereged Batin.
Tulusing Rasa membutuhkan upaya untuk membersihkan berbagai rereged batin.

Rasa iri, dengki, dendam, kebencian, kesombongan, dan pamrih dapat menjadi kotoran batin yang memengaruhi hubungan manusia dengan sesama.

Membersihkan rasa bukan berarti menghapus semua pengalaman buruk. Pengalaman tetap dapat menjadi bagian dari perjalanan kehidupan. Yang perlu dilepaskan adalah keterikatan terhadap rasa buruk yang terus-menerus menguasai diri.

Ketika rasa mulai resik, manusia dapat melihat sesama dengan lebih manusiawi dan menghadapi kehidupan tanpa terus membawa beban batin dari masa lalu.

8. Rasa Dadi Pepadhang Tumrap Cipta.
Rasa dan cipta saling mempengaruhi.

Cipta yang jernih membantu manusia memahami rasa, sedangkan rasa yang tulus dapat membantu cipta memahami keadaan secara lebih utuh.

Karena itu, Tulusing Rasa bukan sesuatu yang berdiri sendiri.

Rasa perlu berjalan bersama Weninging Cipta agar perasaan tidak berkembang menjadi penilaian yang keliru. Sebaliknya, cipta juga tidak cukup hanya mengandalkan pertimbangan rasional tanpa memahami kedalaman rasa.

Keduanya perlu berjalan seimbang. Cipta memberikan kejernihan, sedangkan rasa memberikan kedalaman.

9. Rasa Nuntun marang Laku.
Prinsip terakhir Tulusing Rasa adalah bahwa rasa yang tulus harus diwujudkan dalam laku.

Ketulusan tidak cukup hanya dirasakan di dalam batin. Ia harus tampak dalam cara manusia memperlakukan sesama.

Jika seseorang merasa welas tetapi tidak pernah bersedia membantu ketika mampu, maka rasa tersebut belum sepenuhnya menjadi laku.

Jika seseorang mengaku tidak memiliki iri dan dengki tetapi masih senang melihat penderitaan orang lain, maka rasa tersebut masih perlu ditata.

Karena itu, ukuran Tulusing Rasa bukan sekadar apa yang dirasakan seseorang, melainkan bagaimana rasa tersebut diwujudkan dalam kehidupan.

Hubungan Tulusing Rasa dengan Kawruh Sejati.
Dalam Kawruh Sejati, rasa memiliki kedudukan penting dalam proses manusia memahami kehidupan. Namun, rasa tidak boleh dipahami sebagai satu-satunya ukuran kebenaran.

Rasa perlu berjalan bersama cipta yang wening dan karsa yang utama.

Weninging Cipta membantu manusia melihat dengan jernih.

Tulusing Rasa membantu manusia merasakan dengan tulus.

Utamaning Karsa membantu manusia mengarahkan kehendak kepada tindakan yang utama.

Ketiganya membentuk satu kesatuan yang tidak terpisahkan.

Apabila cipta jernih tetapi rasa tidak tulus, kejernihan dapat kehilangan kedalaman kemanusiaannya. Sebaliknya, apabila rasa kuat tetapi cipta tidak wening, seseorang dapat mudah terbawa perasaan.

Karena itu, Tulusing Rasa perlu selalu berjalan bersama Weninging Cipta.

Tulusing Rasa Bukan Sekadar Perasaan.
Salah satu hal penting dalam memahami Tulusing Rasa adalah membedakannya dari sekadar perasaan.

Perasaan dapat berubah mengikuti keadaan. Hari ini seseorang merasa senang, besok dapat merasa sedih. Hari ini dapat merasa dekat dengan seseorang, kemudian merasa kecewa karena suatu keadaan.

Tulusing Rasa lebih dalam daripada perubahan perasaan sesaat.

Tulusing Rasa adalah sikap batin yang berusaha menjaga ketulusan meskipun keadaan berubah.

Manusia tetap dapat merasa marah, sedih, kecewa, atau takut. Namun, ia tidak membiarkan rasa tersebut menguasai seluruh cipta dan karsanya.

Dengan demikian, ketulusan bukan berarti tidak mempunyai emosi, melainkan mampu menyadari, memahami, dan menata emosi tersebut.

Tulusing Rasa dalam Kehidupan Sehari-hari.
Tulusing Rasa dapat diterapkan dalam berbagai keadaan sederhana.

Dalam keluarga, Tulusing Rasa terlihat dari kemampuan mendengarkan tanpa langsung menyalahkan.

Dalam persahabatan, Tulusing Rasa terlihat dari kemampuan ikut berbahagia ketika sahabat memperoleh keberhasilan.

Dalam pekerjaan, Tulusing Rasa terlihat dari kesediaan menghargai orang lain tanpa selalu mencari pengakuan.

Dalam kehidupan sosial, Tulusing Rasa terlihat dari kepedulian terhadap sesama tanpa membeda-bedakan berdasarkan kepentingan pribadi.

Bahkan ketika menghadapi orang yang berbeda pandangan, Tulusing Rasa dapat diwujudkan dengan tetap menjaga penghormatan dan tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk membenci.

Dengan demikian, Tulusing Rasa bukan konsep yang jauh dari kehidupan. Ia justru diuji dalam hubungan sehari-hari.

Penutup.
Tulusing Rasa merupakan salah satu dasar penting dalam perjalanan manusia menuju kehidupan yang lebih utuh.

Sembilan prinsipnya mencakup kejujuran terhadap rasa, bebas dari pamrih, tidak iri dan dengki, memiliki welas terhadap sesama, tidak dikuasai kepentingan pribadi, mampu menerima kasunyatan, membersihkan rereged batin, menjadikan rasa sebagai pepadhang bagi cipta, dan mewujudkannya dalam laku.

Dalam Kawruh Uttamopadesa, Tulusing Rasa tidak berdiri sendiri. Ia menjadi satu kesatuan dengan Weninging Cipta dan Utamaning Karsa.

Weninging Cipta memberikan kejernihan.

Tulusing Rasa memberikan ketulusan.

Utamaning Karsa memberikan arah.

Ketiganya kemudian diwujudkan dalam laku kehidupan.

Dengan demikian, Tulusing Rasa bukan sekadar bagaimana manusia merasa, tetapi bagaimana manusia menjaga ketulusan rasa agar dapat melahirkan sikap, ucapan, dan tindakan yang selaras dengan kasunyatan dan kehidupan.

FAQ tentang 9 Prinsip Tulusing Rasa

Apa arti Tulusing Rasa?
Tulusing Rasa berarti ketulusan rasa dalam merasakan, memahami, dan menyikapi kehidupan tanpa dikuasai pamrih, iri, dengki, kebencian, maupun kepentingan pribadi.

Apakah Tulusing Rasa berarti harus selalu lembut?
Tidak. Tulusing Rasa bukan berarti selalu lembut atau selalu menyenangkan. Ketulusan rasa berarti mampu merasakan keadaan secara jujur dan menempatkan rasa secara tepat.

Apa hubungan Tulusing Rasa dengan Weninging Cipta?
Keduanya saling melengkapi. Weninging Cipta berkaitan dengan kejernihan cipta, sedangkan Tulusing Rasa berkaitan dengan ketulusan rasa. Cipta dan rasa perlu berjalan bersama agar manusia tidak mudah dikuasai prasangka maupun emosi.

Apakah orang yang Tulusing Rasa tidak boleh marah?
Tidak demikian. Marah merupakan salah satu rasa yang dapat muncul dalam kehidupan. Yang penting adalah manusia tidak membiarkan kemarahan menguasai cipta dan karsa sehingga melahirkan tindakan yang merugikan.

Bagaimana cara melatih Tulusing Rasa?
Dengan belajar mengenali rasa sendiri, mengurangi pamrih, tidak memelihara iri dan dengki, berusaha memahami keadaan orang lain, menerima kasunyatan, serta membiasakan diri mewujudkan rasa tulus dalam tindakan nyata.

Mengapa Tulusing Rasa harus diwujudkan dalam laku?
Karena rasa yang hanya berada dalam batin belum sepenuhnya menjadi kehidupan. Tulusing Rasa perlu tampak melalui ucapan, sikap, hubungan dengan sesama, dan tindakan sehari-hari.

Apa hubungan Tulusing Rasa dengan Utamaning Karsa?
Rasa yang tulus membantu manusia mengarahkan kehendaknya secara lebih baik. Karena itu, Tulusing Rasa menjadi salah satu dasar bagi lahirnya Utamaning Karsa dalam laku kehidupan.

Komentar