9 PRINSIP WENINGING CIPTA DALAM KAWRUH SEJATI
Weninging Cipta merupakan salah satu dasar penting dalam Kawruh Sejati. Weninging cipta bukan sekadar keadaan pikiran yang tenang, bukan pula usaha untuk mengosongkan pikiran dari segala sesuatu.
Weninging cipta menunjuk pada keadaan cipta yang bersih, jernih, sadar, dan mampu melihat sesuatu sebagaimana adanya tanpa dikuasai oleh pamrih, prasangka, nafsu, maupun dorongan sesaat.
Dalam kerangka Kawruh Uttamopadesa, cipta merupakan bagian penting dari kehidupan manusia. Cipta, rasa, dan karsa tidak berdiri sendiri. Ketiganya saling berhubungan dan menjadi dasar manusia dalam memahami, merasakan, memilih, serta menjalani kehidupan.
Karena itu, Weninging Cipta bukan hanya keadaan batin, tetapi harus tampak dalam cara berpikir, cara menyikapi keadaan, cara mengambil keputusan, dan akhirnya dalam laku kehidupan.
Untuk memahami Weninging Cipta secara lebih terarah, berikut sembilan prinsip yang dapat dijadikan pedoman.
1. Cipta Berlandaskan Kasunyatan
Prinsip pertama Weninging Cipta adalah menjadikan kasunyatan sebagai dasar dalam melihat kehidupan.
Cipta yang wening tidak dibangun berdasarkan angan-angan, dugaan, prasangka, atau keinginan pribadi. Manusia belajar melihat kenyataan sebagaimana adanya sebelum memberikan penilaian.
Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang sering kali tidak melihat keadaan secara langsung. Yang dilihat justru sudah bercampur dengan pendapat, pengalaman masa lalu, kepentingan, dan emosi pribadi.
Akibatnya, sesuatu yang sebenarnya sederhana dapat menjadi rumit karena cipta telah dipenuhi tafsir.
Weninging cipta mengajarkan manusia untuk kembali melihat apa yang nyata. Dari sinilah kejernihan mulai tumbuh.
2. Cipta Bebas dari Pamrih.
Cipta yang wening tidak mudah dikuasai oleh pamrih.
Pamrih adalah keinginan tertentu yang membuat seseorang melihat sesuatu hanya dari kepentingannya sendiri. Ketika pamrih terlalu kuat, cipta cenderung mencari pembenaran terhadap apa yang diinginkan.
Misalnya, seseorang sudah menginginkan suatu hasil tertentu. Apa pun kenyataan yang muncul kemudian akan ditafsirkan agar sesuai dengan keinginannya. Dalam keadaan demikian, cipta tidak lagi menjadi alat untuk memahami kenyataan, melainkan menjadi alat untuk membenarkan keinginan.
Weninging cipta tidak berarti manusia tidak boleh memiliki tujuan. Tujuan tetap diperlukan. Namun, tujuan tidak boleh menghilangkan kejernihan dalam melihat kenyataan.
3. Cipta Ora Dikuasani Prasangka.
Prasangka dapat membuat manusia mengambil kesimpulan sebelum memahami keadaan secara utuh.
Weninging cipta mengajarkan agar manusia tidak tergesa-gesa menyimpulkan sesuatu hanya berdasarkan kesan pertama. Apa yang tampak belum tentu menggambarkan keseluruhan keadaan.
Prinsip ini sangat penting dalam hubungan antarmanusia. Banyak perselisihan bermula bukan dari kenyataan yang besar, melainkan dari kesimpulan yang dibuat terlalu cepat.
Dengan cipta yang wening, manusia memberi ruang untuk mengetahui, memahami, dan memeriksa sebelum menilai.
4. Cipta Mampu Membedakan.
Weninging cipta membutuhkan kemampuan membedakan.
Manusia perlu mampu membedakan antara kenyataan dan pendapat, antara kebutuhan dan keinginan, antara kebenaran dan pembenaran, serta antara dorongan sesaat dan keputusan yang benar-benar dipahami.
Kemampuan membedakan membuat cipta tidak mudah terseret oleh keadaan.
Dalam Kawruh Sejati, kejernihan bukan berarti menerima semua hal tanpa pertimbangan. Sebaliknya, cipta yang wening justru mampu melihat perbedaan secara jelas sehingga manusia dapat menentukan sikap dengan lebih tepat.
5. Cipta Tidak Terpengaruh Dorongan Sesaat.
Karep atau dorongan sesaat dapat mempengaruhi cara manusia berpikir.
Ketika marah, misalnya, seseorang dapat mengatakan atau melakukan sesuatu yang kemudian disesalinya. Ketika terlalu gembira, seseorang juga dapat mengambil keputusan tanpa mempertimbangkan akibatnya.
Weninging cipta memberikan ruang antara munculnya dorongan dan tindakan. Ruang tersebut memungkinkan manusia untuk menyadari apa yang sedang terjadi dalam dirinya sebelum bertindak.
Dengan demikian, cipta tidak langsung mengikuti setiap dorongan yang muncul.
Inilah salah satu bentuk penting dari kesadaran dalam kehidupan.
6. Cipta Tetep Eling.
Eling merupakan bagian penting dari Weninging Cipta.
Eling berarti sadar terhadap keadaan diri, sadar terhadap apa yang sedang dilakukan, serta sadar terhadap akibat dari setiap tindakan. Manusia yang eling tidak hidup secara otomatis mengikuti kebiasaan dan dorongan tanpa pengamatan.
Eling juga berkaitan dengan kesadaran terhadap keterbatasan kehidupan. Manusia memiliki waktu yang terbatas sehingga setiap kesempatan perlu digunakan untuk memperbaiki cipta, rasa, dan karsa.
Dalam konteks ini, Weninging Cipta bukan keadaan yang dicapai sekali lalu selesai. Ia merupakan proses yang terus dijaga melalui kesadaran dalam kehidupan sehari-hari.
7. Cipta Ora Kagodha Rereged Batin.
Cipta dapat menjadi keruh karena berbagai rereged batin. Rasa iri, dengki, kebencian, kesombongan, ketakutan yang berlebihan, dan keinginan menguasai dapat memengaruhi cara seseorang melihat kenyataan.
Ketika rereged batin memenuhi cipta, manusia dapat melihat orang lain bukan sebagaimana adanya, melainkan berdasarkan rasa tidak suka atau kepentingannya sendiri.
Karena itu, Weninging Cipta membutuhkan upaya membersihkan batin dari hal-hal yang membuat pandangan menjadi tidak jernih.
Membersihkan cipta bukan berarti menolak emosi. Emosi merupakan bagian dari kehidupan manusia. Yang penting adalah tidak membiarkan emosi menguasai cipta sehingga manusia kehilangan kejernihan dalam menentukan sikap.
8. Cipta Dadi Pepadhang Tumrap Karsa.
Cipta yang wening memiliki hubungan langsung dengan karsa.
Apa yang dipahami akan mempengaruhi apa yang dikehendaki, dan apa yang dikehendaki akan mempengaruhi tindakan. Karena itu, cipta perlu menjadi pepadhang bagi karsa.
Jika cipta keruh, karsa mudah diarahkan oleh kepentingan sesaat. Sebaliknya, jika cipta wening, manusia dapat memilih tindakan dengan lebih sadar.
Di sinilah hubungan Weninging Cipta dengan prinsip Utamaning Karsa menjadi jelas. Karsa yang utama membutuhkan cipta yang jernih dan rasa yang tulus.
Weninging Cipta, Tulusing Rasa, dan Utamaning Karsa pada akhirnya merupakan satu kesatuan dalam pembentukan laku manusia.
9. Cipta Dadi Dhasar Lelaku.
Prinsip terakhir adalah bahwa Weninging Cipta harus diwujudkan dalam laku.
Kawruh tidak berhenti pada pemahaman. Pengetahuan yang hanya disimpan dalam pikiran belum menjadi perubahan dalam kehidupan.
Jika seseorang memahami pentingnya kejernihan tetapi masih mudah dikuasai prasangka, pamrih, kemarahan, dan dorongan sesaat, berarti kawruh tersebut belum sepenuhnya menjadi laku.
Karena itu, ukuran Weninging Cipta bukan
hanya seberapa banyak seseorang mampu menjelaskan tentang kejernihan cipta, melainkan bagaimana kejernihan tersebut tampak dalam kehidupan.
Cipta yang wening akan memengaruhi ucapan, sikap, keputusan, hubungan dengan sesama, dan cara manusia menghadapi berbagai keadaan.
Weninging Cipta dalam Kawruh Sejati.
Dalam kerangka Kawruh Sejati, Weninging Cipta dapat dipahami sebagai bagian dari proses manusia menerima pepadhang kawruh dan mewujudkannya dalam kehidupan.
Kawruh Sejati bukan sekadar pengetahuan yang dikumpulkan oleh pikiran. Kawruh Sejati menjadi pepadhang yang kemudian perlu dipahami melalui Kawruh Kasunyatan dan diwujudkan dalam laku.
Karena itu, Weninging Cipta tidak dimaksudkan untuk menjadikan manusia pasif atau menjauh dari kehidupan. Sebaliknya, cipta yang jernih membuat manusia mampu menghadapi kehidupan dengan lebih sadar.
Manusia tetap berpikir, merasakan, memilih, dan bertindak. Perbedaannya adalah semua itu dilakukan dengan kesadaran yang lebih jernih.
Weninging Cipta juga tidak berarti manusia harus terbebas dari seluruh persoalan pikiran. Kehidupan selalu menghadirkan persoalan. Yang penting adalah bagaimana manusia tidak membiarkan persoalan tersebut menguasai cipta sehingga kehilangan kemampuan melihat keadaan dengan jernih.
Weninging Cipta sebagai Jalan Menuju Laku.
Weninging Cipta pada akhirnya bukan tujuan yang berdiri sendiri. Ia merupakan bagian dari pembentukan manusia dalam menjalani kehidupan.
Cipta yang wening membantu manusia melihat dengan lebih jernih. Tulusing Rasa membantu manusia merasakan dengan lebih tulus. Utamaning Karsa membantu manusia mengarahkan kehendak kepada tindakan yang utama.
Ketiganya kemudian diwujudkan dalam laku.
Dengan demikian, Weninging Cipta bukan hanya persoalan bagaimana manusia berpikir, tetapi bagaimana manusia menjalani kehidupannya.
Manusia yang terus mengupayakan Weninging Cipta akan belajar untuk tidak mudah dikuasai pamrih, tidak tergesa-gesa dalam menilai, tidak mudah terbawa dorongan sesaat, serta mampu memeriksa kembali setiap keputusan yang akan diambil.
Pada akhirnya, kejernihan cipta akan terlihat bukan dari banyaknya kata tentang kesadaran, melainkan dari kualitas kehidupan yang dijalani.
Weninging Cipta adalah usaha terus-menerus untuk menjaga kejernihan cipta agar manusia mampu memahami kasunyatan, menata rasa, mengutamakan karsa, dan mewujudkan kawruh menjadi laku kehidupan.
Penutup.
Weninging Cipta merupakan dasar penting untuk membangun kejernihan manusia dalam memahami kehidupan. Sembilan prinsipnya mencakup berlandaskan kasunyatan, bebas dari pamrih, tidak dikuasai prasangka, mampu membedakan, tidak terbawa karep sesaat, tetap eling, membersihkan rereged batin, menjadi pepadhang bagi karsa, dan akhirnya diwujudkan dalam laku.
Dalam hubungan dengan Kawruh Sejati, Weninging Cipta bukan sekadar keadaan pikiran yang tenang. Ia merupakan bagian dari perjalanan manusia untuk memahami, menyadari, dan menjalani kehidupan dengan lebih jernih.
Weninging Cipta, Tulusing Rasa, Utamaning Karsa pada akhirnya bertemu dalam satu hal: laku urip yang nyata.
FAQ tentang 9 Prinsip Weninging Cipta.
Apa yang dimaksud dengan Weninging Cipta?
Weninging Cipta adalah keadaan cipta yang bersih, jernih, sadar, dan tidak mudah dikuasai pamrih, prasangka, dorongan sesaat, maupun rereged batin.
Apakah Weninging Cipta berarti mengosongkan pikiran?
Tidak. Weninging Cipta bukan berarti mengosongkan pikiran. Weninging Cipta lebih berkaitan dengan kejernihan dalam melihat, memahami, dan menyikapi kenyataan.
Apa hubungan Weninging Cipta dengan Kawruh Sejati?
Weninging Cipta merupakan salah satu bagian penting dalam penerapan Kawruh Sejati. Kawruh tidak hanya dipahami, tetapi perlu menjadi pepadhang bagi cipta dan diwujudkan dalam laku kehidupan.
Apa hubungan Weninging Cipta dengan Tulusing Rasa dan Utamaning Karsa?
Ketiganya saling berkaitan. Weninging Cipta berkaitan dengan kejernihan cipta, Tulusing Rasa dengan ketulusan rasa, sedangkan Utamaning Karsa berkaitan dengan kehendak yang utama. Ketiganya menjadi dasar pembentukan laku.
Bagaimana cara melatih Weninging Cipta?
Weninging Cipta dapat dilatih dengan membiasakan diri melihat kenyataan secara jernih, memeriksa prasangka, mengurangi pamrih, tidak tergesa-gesa mengambil keputusan, menjaga eling, serta melakukan mawas diri dalam kehidupan sehari-hari.
Apakah Weninging Cipta dapat dicapai sekali saja?
Weninging Cipta bukan keadaan yang cukup dicapai sekali. Ia perlu terus dijaga dan dilatih karena keadaan, pengalaman, emosi, serta dorongan manusia selalu berubah.
Apa tanda cipta mulai wening?
Salah satu tandanya adalah kemampuan melihat keadaan dengan lebih jernih, tidak mudah terbawa prasangka atau emosi, mampu membedakan kenyataan dari pendapat, serta mampu menentukan tindakan dengan lebih sadar.
Mengapa Weninging Cipta harus diwujudkan dalam laku?
Karena kawruh tidak cukup hanya dipahami. Dalam Kawruh Uttamopadesa, kawruh perlu diwujudkan dalam kehidupan. Weninging Cipta yang benar akan tercermin dalam cara manusia berpikir, berbicara, bersikap, memilih, dan bertindak.

Komentar
Posting Komentar